Competitive Advantage di Apotek: Apa yang Membuat Konsumen Memilih Apotek Kita?

 

Pada bisnis apotek, dengan hanya membukanya di lokasi strategis sudah bukan lagi menjadi satu-satunya faktor penentu dalam keberhasilannya. Hal ini karena, saat ini butuh produk yang lengkap, harga yang kompetiti dan harus memiliki pembeda dibandingkan bisnis serupa dalam hal ini apotek lainnya. Jika apotek kita sama dengan yang lainnya, akan membuat konsumen memiliki banyak pilihan dan tinggal memilih ingin berbelanja di mana.

 

Dari sini, bagi seorang Area Manager harus memulainya dengan pertanyaan:

"Mengapa konsumen harus memilih apotek kita dibandingkan kompetitor?"

Pertanyaan ini, akan membawa Area Manager dengan konsep Competitive Advantage atau yang dikenal keunggulan konpetitif 

 

Pada industri retail farmasi, competitive advantage tidak sekedar apotek memiliki pembeda. Tapi, memiliki kemampuan untuk memberikan nilai lebih dan membuat konsumen memiliih alasan untuk membeli serta tetap kembali dibandingkan apotek lainnya. Bagi Area manager, dengan memahami konsep ini akan memastikan setiap apotek memiliki alasan yang kuat untuk dipilih oleh setiap konsumen sekitarnya.

 

Apa Itu Competitive Advantage dalam Apotek?

Sederhananya, competitive advantage merupakan keunggulan suatu bisnis agar mampu bersaing dalam memberikan nilai lebih dibandingkan kompetitornya. Dalam konteks apotek, keunggulan tidak harus berupa harga yang paling murah. Namun, apotek harus memiliki keunggulan dari berbagai aspek seperti:

  • Ketersediaan produk.
  • Kecepatan pelayanan.
  • Kompetensi tenaga farmasi.
  • Customer experience.
  • Kemudahan transaksi.
  • Program loyalitas.
  • Layanan digital.
  • Lokasi.
  • Layanan pesan antas.
  • Konsistensi pelayanan.
  • Kepercayaan konsumen.

 

Hal ini berarti, competitive advantage akan menjawab "Apa yang membuat konsumen menganggap apotek kita lebih bernilai?" Karena bisnis tidak terkecuali apotek akan menganggap bahwa suatu yang sebagai keunggulan hanya karena perusahaan memiliki fasilitas maupun profram tertentu. Padahal, jika konsumen tidak merasakan manfaatnya akan membuat keunggulan tersebut belum menjadi competitive advantage.

 

 

Mengapa Harga Murah Tidak Selalu Menjadi Competitive Advantage?

Pendekatan yang paling mudah untuk menghadapi kompetisi adalah dengan perang harga. Seringkali untuk memenangkan kompetisi dengan cara memberikan harga yang murah, menurunkan harga dan memberikan diskon yang lebih besar. Jika apotek kita masuk pada kondisi tersebut, berarti sudah masuk ke dalam price war atau perang harga.

 

Strategi ini memang terbukti bisa menghasilkan peningkatan transaksi. Namun, jika dilakukan secara jangka panjang membuat margin bisnisnya semakin tergerus. Namun, jika program ini dihentikan sewaktu-waktu belum membuat konsumen untuk bertahan di bisnis kita.

 

Hal ini berarti bahwa jika perusahaan belum mampu membangun loyalitas ke konsumen membuat mereka akan selalu bergantu terhadap angka. Karena itu, competitive advantage tidak boleh dibangun berdasarkan harga murah. Tapi, keunggulan yang kuat adalah saat konsumen memiliki alasan untuk memilih apotek kita meskiput banyak kompetitor serupa di sekitar lokasi tersebut.

 

5 Sumber Competitive Advantage di Apotek.

Dalam operasional apotek, terdapat beberapa aspek yang dapat digunakan untuk menjadi sumber keunggullan kompetitif.

 

1. Ketersediaan Produk: Produk yang Dicari Selalu Tersedia

Sudah tidak dipungkiri bahwa apotek harus memiliki ketersediaan produk yang sangat lengkap. Bayangkan saja, jika konsumen datang ke apotek tapi produk yang diinginkan ternyata kosong. Dari tim di apotek tidak dapat memberikan produk lain. Sederhana saja, konsumen akan pergi dari apotek kita dan akan beralih ke apotek kompetitor.

 

Jika hal ini terjadi secara berulang, konsumen akan memiliki persepsi bahwa apotek miliki kita tidak lengkap sehingga jangan kembali ke sana. Karena hal ini, ketersediaan produk bisa menjadi competitive advantage. Namun, yang perlu diingat adalah semua SKU yang harus disediakan belum tentu memiliki jumlah yang sama.

 

Di sinilah peran Area Manager menjadi penting, dengan memahami produk apa saja yang berkontribusi terhadap penjualan, produk yang dicari dan produk yang memiliki perputaran yang tinggi akan membuat apotek bisa menunjukkan keunggulannya. Sehingga competitive advantage tidak hanya terjadi dari jumlah produk yang banyak. Melainkan, dengan kemampuan menyediakan produk yang tepat, waktu yang sesuai dan jumlahnya tepat.

 

2. Pengalaman Konsumen: Konsumen Membeli Lebih dari Sekadar Produk

Konsumen yang datang ke apotek seringkali tidak hanya untuk membeli obat. Mereka darang karena membutuhkan konsultasi, mencari informasi produk sampai mendapatkan pengalaman berbelanja yang nyaman. Karena ini, apotek mana saja yang bisa memberikan pengalaman konsumen akan menjadi pembeda yang sangat kuat.

 

Apotek yang bisa memberikan pelayanan yang cepat, konsultasi lebih membantu, proses transaksi lebih mudah dan konsumen yang merasa diperhatikan. Hal inilah yang akan menjadi alasan bahwa pengalaman konsumen di apotek dapat menjadi competitive advantage.

 

Oleh karena itu, Area Manager memiliki peran guna membangun sistem demi mendapatkan pengalaman konsumen terjadi secara konsisten. Sistem yang perlu dibangun mulai dari jam beban kerja sesuai dengan tim di apotek, melaksanakan training, implementasi SOP sampai monitoring hingga evaluasi keluhan. Hal ini membuat pengalaman konsumen yang baik tidak berdasarkan hasil kerja dari satu karyawan. Tapi harus dibangun menjadi sebuah sistem.

 

3. Kapabilitas Tim: Tim sebagai Sumber Keunggulan

Manajemen sering kali mengembangkan teknologi terbaru, membuat sistem yang relevan dengan kondisi pasar saat ini hingga meniru promosi dari kompetitor. Tapi yang terkadang manajemen lupa yaitu yang menjalankannya adalah tim di apotek.

 

Oleh karena itu, kompetensi tim bisa menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan keunggulan dibanding kompetitor. Apoteker dan tim harus memahami tentang produk, proses palyanan, komunikasi dengan konsumen hingga kemampuan menyelesaikan masalah operasional.

 

Oleh karena itu, Area Manager memiliki peran guna memastikan kemampuan tim di apotek terus berkembang. Cara berkembangnya tidak hanya melalui training formal. Tetapi, bisa dengan menjalankan coaching, evaluasi, delegasi, sharing best practice sampai review performa masing-masing tim.

 

Dengan menjalankannya, diharapkan kemampuan tim akan meningkatkan dan berkorelasi kualitas operasional ikut meningkat. Ketika operasional meningkat, pengalaman konsumen berpotensi menjadi lebih baik. Konsumen yang mendapatkan pengalaman yang baik akan membuat mereka membeli lagi dan lagi ke apotek. Tim yang memiliki kapabilitas tim terbaik akan menjadi sumber competitive advantage yang sulit ditiru secara instan oleh kompetitor.

 

4. Convenience: Membuat Konsumen Lebih Mudah

Dalam industri retail farmasi, perubahan perilaku konsumen semakin cepat. Mungkin saat ini mereka nyaman dengan layanan online seperti chat melalui media sosial. Bisa jadi dikemudian hari mereka bisa menuntut layanan pesan antar hingga kemudahan transaksi melalui platform tertentu.

 

Karena ini, bentuk competitive advantage dari apotek adalah convenience atau kenyamanan. Pertanyaan yang harus dijawab tidak lagi hanya:

“Apakah kita menjual produk yang dibutuhkan konsumen?”

Tetapi:

“Seberapa mudah konsumen mendapatkan produk tersebut dari kita?”

 

Sehingga semakin sedikit hambatan yang dilalui konsumen, semakin besar peluang apotek memberikan pengalaman yang positif. Dalam konteks strategi bisnis, kemudahan ini bisa menjadi bagian dari value proposition sebuah apotek.

 

5. Trust: Kepercayaan Tidak Bisa Dibangun dengan Promo

Dalam retail manapun tidak hanya apotek, aspek yang penting tapi sulit diukur adalah kepercayaan. Konsumen akan membeli produk kesehatan sesuai kebutuhan dan terdapat resiko yang berbeda dibandingkan produk retail biasanya.

 

Karena itu, kepercayaan dari konsumen terhadap apotek dan tenaga farmasi memiliki nilai strategis yang harus dibangun secara jangka panjang. Dalam membangun kepercayaan bisa dilakukan melalui:

  • Konsistensi pelayanan.
  • Informasi yang jelas.
  • Profesionalisme tenaga farmasi.
  • Ketersediaan produk.
  • Transparansi transaksi.
  • Penyelesaian keluhan yang baik.
  • Konsistensi kualitas pelayanan.

Sesaat konsumen percaya, hubungan yang terjadi tidak sekedar berdasarkan transaksi. Mereka mulai memiliki preferensi dan preferensi inilah yang akan menjadi dasar terbentuknya loyalitas.

 

Competitive Advantage Harus Dirancang, Bukan Kebetulan

Kesalahan yang sering dilakukan dalam membangun competitive advantage adalah menganggap keunggulan akan muncul dengan sendirinya. Sebagai contoh, lokasi yang bagus, produk kita lengkap, tim ramah dan promo kita banyak. Tapi, apakah semua ini benar-benar menjadi alasan konsumen memilih kita?

 

Area Manager perlu menghubungkan antara kemampuan internal perusahaan maupun apotek dengan kebutuhan konsumen. Pendekatan yang bisa digunakan adalah:

Kebutuhan Konsumen

↓

Kapabilitas Bisnis

↓

Value Proposition

↓

Pengalaman Konsumen

↓

Preferensi Konsumen

↓

Loyalitas Konsumen

 

Jika dikaitkan dengan yang terjadi apotek bisa dijelaskan sebagai:

Konsumen membutuhkan obat yang sering digunakan.

↓

Apotek memiliki sistem inventory yang mampu menjaga ketersediaan produk Pareto.

↓

Konsumen mendapatkan produk ketika dibutuhkan.

↓

Pengalaman berbelanja menjadi lebih baik.

↓

Konsumen memiliki alasan untuk kembali.

↓

Loyalitas meningkat.

 

Dari sini akan terlihat bahwa competitive advantage tidak terjadi dari satu aktivitas. Tapi, ini adalah hasil dari beberapa kemampuan yang saling terhubung satu sama lain.

 

Jangan Semua Outlet Menggunakan Competitive Advantage yang Sama

Saat Area Manager mengelelola berbagai apotek, salah satu kesalahan yang mungkin terjadi adalah menggunakan strategi yang sama untuk semua apotek. Padahal, setiap apotek memiliki karakteristik yang berbeda-beda juga. Ada apotek yang berada di dekat rumah sakit akan berbeda dengan apotek yang berada di dengan yang berada di kawasan perumahan. Ada juga apotek yang memiliki jumlah konsumen rendah dan ada juga yang tinggi.

 

Karena itu, competitive advatage perlu disesuaikan dengan karakteristik apotek masing-masing.

Contohnya:

Apotek A

Traffic tinggi → fokus pada speed & service.

Apotek B

Traffic rendah → fokus pada retention & local engagement.

Apotek C

Kompetitor kuat → fokus pada differentiation.

Apotek D

Stock availability rendah → fokus pada inventory excellence.

 

Dengan competitive advantage diterapkan di masing-masing apotek, Area Manager tidak hanya menjawab pertanyaan “Bagaimana meningkatkan sales?” Tetapi, “Apa keunggulan yang harus kita bangun agar outlet ini lebih dipilih oleh konsumennya?”

 

Competitive Advantage Harus Berdampak pada Performa Bisnis

Competitive advantage bukan tujuan akhir. Keunggulan ini harus menghasilkan dampak terhadap bisnis apotek.

Misalnya:

Stock Availability

↓

Produk lebih sering tersedia

↓

Lost sales berkurang

↓

Conversion meningkat

↓

Sales meningkat

 

Atau:

People Capability

↓

Pelayanan meningkat

↓

Customer Experience meningkat

↓

Repeat Customer meningkat

↓

Customer Lifetime Value meningkat

 

Atau:

Convenience

↓

Customer Effort menurun

↓

Transaksi lebih mudah

↓

Customer Preference meningkat

↓

Retention meningkat

 

Dengan demikian, competitive advantage harus dihubungkan dengan dampak ke bisnis. Jika ada program yang terlihat menarik tetap tidak dapat memberikan nilai ke konsumen maupun bisnis. Maka, Area Manager harus segera melakukan evaluasi kembali apakah telah benar-benar strategis atau tidak.

 

Kesimpulan

Dalam retail farmasi khususnya apotek, pilihan konsumen semakin banyak. Beberapa apotek yang memiliki tempat strategi akan mendatangkan konsumen, promosi menarik transaksi dan harga yang kompetitif akan meningkatkan daya tarik.

 

Namun, apakah semua ini sudah cukup membuat konsumen memilih dan kembali ke apote kita? Saya rasa tidak. Oleh karena itu, competitive advantage harus dibangun ketika apotek mampu memberikan nilai yang dianggap penting bagi konsumen dan mampu menjalankan secara konsisten. Keunggulan yang bisa diambil dapat melalui ketersediaan produk, pengalaman konsumen, kapabilitas tim, convinience hingga kepercayaan

 

Bagi Area Manager, tantangannya tidak hanya menemukan apa yang berbeda dari kompetitor. Tapi, bagaimana cara apotek bisa memenangkan persaingan dengan konsumen memiliki alasan yang jelas. Jika hal ini bisa dijalankan secara konsisten, competitive advantage tidak lagi sekedar konsep strategi bisnis. Tapi, ia bertransformasi menjadi alasan mengapa konsumen tetap memilih apotek kita ditengah persaingan yang semakin ketat.