Dalam pengalaman saya mengelola jaringan apotek, satu pertanyaan yang sering muncul adalah"
“Apotek mana yang harus kita dorong penjualannya?”
Jawabannya sekilas terlihat sederhana. Karena apotek dengan omset rendah tentu membutuhkan perhatian lebih. Sedangkan, apotek yang pencapaian di bawah target layak untuk didorong. Namun, apakah harus seperti itu. Jawabannya, belum tentu.
Sebuah apotek dengan omset rendah bisa saja terdapat potensi pasar yang sangat besar namun belum tergali. Sebaliknya, apotek dengan omset tinggi berada di posisi puncak dan membuat ruang pertumbuhannya terbatas. Karena dalam mengelola portoflio apotek, pernyaan yang lebih strategis bukan hanya:
“Apotek mana yang performanya rendah?”
Tetapi:
“Apotek mana yang memiliki peluang pertumbuhan yang paling layak untuk didorong?”
Dalam menjawab pertanyaan di atas, Area Manager dapat menggunakan pendekatan sederhana melalui Growth Opportunity Matrix.
Tidak bosan-bosannya saya menjelaskan bahwa setiap apotek memiliki kondisi yang berbeda. Ada apotek yang omset tinggi karena banyak konsumen yang datang. Ada juga omset rendah karena memang pasarnya lebih kecil. Jika Area Manager hanya menggunakan patokan omset sebagai dasar pengambilan keputusan, maka hanya akan muncul.
Apotek dengan omset rendah.
Apotek dengan omset tinggi.
Padahal, strategi yang dibutuhkan bisa sangat berbeda dan setidaknya ada dua perspektif yang perlu diperhatikan
Dalam mengambarkan performa saat ini, Area manager menggunakan beberapa indikator seperti:
Selain memanfaatkan indikator diatas, Area Manager juga perlu menggambarkan sebesarap besar ruang pertumbuhan yang masih tersedia. Dalam mengukur potensi dapat dipengaruhi oleh:
Dengan menggabungkan dua perspektif di atas membuat Area Manger akan mendapatkan gambaran secara terperinci mengenaik posisi dari suatu apotek
Dengan dua perspektif di atas tadi, Area Manager harus memetakannya menjadi empat kondisi yakni:
Dengan matriks di atas tidak dimaksudkan menjadi alat yang hanya sekedar memberikan label permanen ke suatu apotek. Tapi, dengan adanya matriks berguna sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan. Perlu diketahu bahwa posisi dari suatu apotek dapat berubah seiring waktu.
Jika ada apotek yang berada pada matriks ini berarti memiliki perfoam yang baik dan masih berada di pasar dengan potensi yang besar. Contoh apotek yang masuk pada matrik ini memiliki:
Apotek seperti ini akan menjadu sumber pertumbuhan utama dalam portofolio kita. Strategi yang dibuat bukan sekedar memberikan target yang lebih tinggi. Tapi yang lebih penting adalah area mana yang masih bisa dikembangkan. Area yang bisa dikembangkan seperti
Sehingga fokusnya adalah Accelerate Growth yang berarti sumber daya tambahan dapat digunakan untuk memperbesar peluang yang telah terbukti.
Pada kategori didominasi apotek yang memiliki performa tinggi, tetapi ruang pertumbuhannya terbatas. Apotek-apotek di sini terbilang tetap penting bagi Area Manager, namun strategi yang diterapkan tidak harus se agresif matrik pertama. Fokus pada gerai ini bisa bergeset menjadi:
Pada maktriks ini yang membuat Area Manager harus memberikan perhatian lebih. Hal ini karena, apotek memiliki performa yang belum optimal tapi potensinya masih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan bahwa kesenjangan performa bukan dari keterbatas pasar. Melainkan, ada sesuai yang mungkin dikerjakan secara optimal.
Dalam melihat area yang belum dikerjakan secara optimal harus melakukan diagnosis seperti:
Sehingga strategi untuk apotek yang berada di sini jangan langsung mendorong omset. Melainkan, “Find the gap, fix the gap, then grow.”
Matriks terakhir biasanya apoteknya memiliki performa rendah serta potensinya yang rendah juga. Sebagai Area Manager, terkadang muncul rasa malas dalam mengelola apotek seperti ini. Namun, harus tetap dikelola dengan cara berpikir yang berbeda. Mulai dari yang awalnya mempertanyakan apakah apotek ini masih bisa diperbaiki. Menjadi, strategi yang lebih rasional seperti optimis apotek ini bisa diperbaiki serta selalu evaluasi dampaknya.
Apotek yang masuk dalam kategori sini bukan tidak penting. Justri sebaliknya, pendekatan di atas akan membantu perusahaan tidak menggunakan sumber daya yang tidak tepat.
Kesalahan yang lazim terjadi adalah menentukan prioritas apotek dengan menggunakan satu indikator saja. Seperti ada apotek yang pencapaiannya rendah, maka solusinya harus didorong. Padahal, tidak tercapainya target ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Sehingga growth opportunity sebaiknya dibaca melalui beberapa aspek yaknit.
Semakin lengkap data yang digunakan oleh Area Manager, maka makin baik kualitas diagnosisi yang dapat dilakukan.
Setelah semua apotek dipetakan berdasarkan matriks yang sesuai, langka berikutnya bukan sekedar melihat kuadrannya. Area manager harus menentukan tindakan strategis yang sesuai dengan masing-masing posisi apotek.
Prioritas: Invest
Prioritas: Protect
Prioritas: Diagnose & Develop
.
Prioritas: Optimize
Dengan demikian, matriks ini tidak boleh berhenti hanya pada tahap klasifikasi. Tapi harus sudah berujung pada strategic action.
Salah satu manfaat terbesar yang dirasakan Area Manager dalam menggunakan oendekatan ini adalah menghindari persepi One Size Fits All Strategy atau satu strategi digunakan ke semua apotek.
Dari semua itu, tujuan akhirnya tetap sama yaitu Business Growth. Tetapi, jalan untuk mencapainya bisa berbeda-beda. Hal ini karena setiap memiliki kombinasi: Market + Customer + Competition + Capability + Performance
Sehingga tidak bisa menggunakan satu strategi untuk keseluruhan apotek.
Pada akhirnya, Growth Opportunity Matrix tidak sekerdar membuat sebuah tabel. Tapi, mengubah cara Area Manager mengelola jaringan apotek. Dalam outlet managemen, Area Manager akan cenderung bertanya:
Dalam pendekatan Outlet Management, kita cenderung bertanya:
“Bagaimana meningkatkan outlet ini?”
Sedangkan dalam Portfolio Management, pertanyaannya berubah menjadi:
“Bagaimana mengoptimalkan seluruh portfolio berdasarkan performance dan potential masing-masing outlet?”
Perubahan ini akan menjadi penting sesaat jumlah apotek kita semakin banyak. Karena semakin besat apotek yang dikelola, makin sulit menggunakan pendekatan yang sama. Oleh karena itu Area Manager perlu melihat dua level sekaligus:
Pada perspektif ini, Area Manager harus memahami:
Dalam persepketif ini, Area Manager harus memahami:
Dalam mengelola apotek, Area Manager mudah terjebak pada pertanyaan:
“Apotek mana yang performanya paling rendah?”
Tetapi, pertanyaan tersebut belum cukup untuk menentukan prioritas pertumbuhan.
Karena inilah keputusan strategis sebaiknya tidak hanya didasari pada performa saat ini, namun harus melihat growth potential.
Dengan Growth Opportunity Matrix akan membantu Area Manager bisa menghubungkan keduanya. Tujuan dari matriks ini bukan untuk menentukan apotek mana yang "baik" atau "buruk". Tapi tujuannya adalah menjawab pertanyaan yang lebih penting:
“Apotek mana yang perlu kita investasikan, mana yang perlu kita pertahankan, mana yang perlu kita perbaiki, dan mana yang perlu kita optimalkan?”
Karena dalam portofolio apotek, growth tidak datang dari omset terbesar. Namun, growth datang dari apotek yang memiliki gap terbesar antara performa saat ini dan potensi yang bisa dicapai. Sehingga tugas dari Area Manager bukan sekedar mendoro semua apotek bertumbuh. Tetapi, menentukan apotek mana yang memiliki pertumbuhan yang mungkin diciptakan, mengetahui hambatannya dan sumber daya apa yang dibutuhkan untuk mewujudkannya,
Address:
Bluru Kidul, Sidoarjo, Jawa Timur
© 2026 utthanagrowth.com

